Tak sendiri…
Aku tak lagi sendiri, tidak bersamanya.
Aku tak hanya sendiri, tidak selalu ada dia.
Aku hanya menikmati kesendirian.
Aku berdiri di tengah keramaian, aku menepi pada jalan sepi ini.
Mencoba menikmati.
Simple Lie
The prelude to “Simple Lie” by Nina Ardianti makes me remember about my own daily life. The characters and settings in this novel are so real, ‘so college student’. Nina takes college as its setting and makes this novel easier to understand.
Simple Lie tells what happens to Rere, the main character, who has nearly a perfect life. She is smart, beautiful, active, and almost perfect in every part of her life. Rere already has a boyfriend, Fedi, whom always be a gentleman for her. I think a person like Rere probably exists in our life. This is why the story makes sense.
Rere lives her life as usual until another imperfect man, Ilham, comes to her life. Ilham is an opposite of Fedi. He is not a gentleman like Fedi but he has different ways to treat Rere. Slow but sure, Ilham gets into her heart and starts to replace Fedi. This triangle love makes Rere confused. I like what she thinks when she faces this problem, “The easiest kind of relationship is with ten thousand people. The hardest is with the one. Correction. The two.”
The story goes on as Rere tries tofollow the flow. She makes a good relationship with Fedi and Ilham. Many people said that life is a choice. Rere has to decide whether it is Fedi or it is Ilham will be her true love. I will be very confused if I face the problem like Rere does. Nina gives us an unpredictable ending for this novel. I couldn’t realize what was behind Rere’s choice until I read the last chapter, “Hidden: what is behind the truth?”
One of the things I learn from this novel is one sentence given to Rere “Sometimes life doesn’t always turn out the way you plan, Re”. This sentence will always be remembered by me.
I think Nina succeeds to attract us to read this novel till the end. She uses everyday language in her novel. You don’t have to frown when you read it. Besides, I can feel the love atmosphere in this novel.
Guidelines in writing, an article review
Abdulla, Dilshad. 2008. Writing Skills.
<http://www.english-for-students.com/Writing-Skills.html>
It is obviously seen that students who have good writing skills rarely get troubles in studying. They are able to get better grade. They are also capable to communicate their thought effectively. Abdulla believes that improving our writing skills will pay us off. The writing strategies—analyze your writing situation, limit your writing topics, and lay out a plan of organization—that you learn will serve you well for the rest of your life. Abdulla gives us seven precepts which will help us to write effectively and impressively. Three important guidelines which I think can give the most contributions to our writing are highlighted below.
Firstly, write about the subject that interests you. If the assignment that you get authorize you to choose any topic that you like, it will be better for you to write on something you like most. People may become more interested in talking about something that they like. They seem likely to have a lot of things to say about their interest, hobby, special thing, special person, etc. It seems that they never ran out of topics to discuss when it comes to their like. Same case is seen in writing. People tend to write more sentences for describing or explaining every single thing they are interested in. This tendency must be used to make our writing look good. Any topics that we like should be an inspiration for our writing. As a final point, our work of writing will be impressive.
Secondly, do not overstate your case. Thus, this suggests you not to overemphasize one case. Abdulla highlights that if you make sweeping claims and big generalization, you will quickly damage your credibility. The topic you choose in writing must represent the most important idea that you will present. Do not present too much general consideration about certain topic in your writing. As what Abdulla says about strategies of writing, one of them is limiting your writing topic. It is important not to lose your mind and keep walking on the right path, be consistent with your plan of organization in writing something.
Thirdly, support your assertion. Abdulla contends that professors are skeptical readers who expect writers to back their assertions with evidence and reasons. This opinion is easily understood. We could not write on something academic without any specific circumstances. We need reason to start writing. We also need evidence to strengthen our writing. These evidences will make it more powerful and logically constructed. These also help us to elaborate our writing and as a result our writing will not be poorly composed.
Another four precepts showed in the article mostly deal with how we construct the organization of our writing. This article gives us several crucial information that we could use in academic writing. The author uses simple languages and comprehensible vocabularies. Thus, this article is easily understood.
Because the article is stated on website which helps students get information about English and constructs without detailed explanation, this article is an appropriate one for students. This article is intended for those who want to get some tips in writing. Since the article only presents several points of guidelines in writing but does not give clear explanation, it is suggested that you have to browse on the net to search more details.
Dee
Dee mengunci pintu kosan sambil membenarkan letak kacamatanya. Ia lalu beranjak keluar, tak pamitan pada siapapun karena dia yakin anak-anak Pondok Bambu belum ada yang bangun. Dee lalu berjalan pelan menuju kampusnya. Lima menit kemudian, ia sampai di depan gerbang atas kampus dan langsung menuju ke gedung fakultas bahasa. Diliriknya taman rektorat yang ia lalui sebelum memasuki gedung fakultas. Indah banget, pikirnya. Sudah puluhan kali Dee melewati taman itu namun tak sekalipun ia bosan menatap keindahan tata letak taman kebanggaan kampusnya itu. Belum banyak mahasiswa yang berseliweran di kampus pagi itu. Dee lalu memasuki fakultasnya dan langsung menuju lift yang akan mengantarnya ke lantai lima, ruang 227.
Pukul 08.30, Dee mengalihkan pandangannya dari jam dinding di kelas, menatap Miss Sira yang masih membahas tentang puisi. Sepuluh menit lagi kuliah ini selesai. Anak-anak kelasnya mulai gelisah dan bersiap-siap menyerbu kantin atau perpustakaan untuk nge-net gratis. Dee melirik jadwal kuliah di bindernya,10.40 Mata Kuliah phonetics and phonology Ruang 150, Lnt. 3 Gedung fakultas Bahasa.
Dua jam bisa dia gunakan untuk membaca di taman rektorat. Dee lalu tersenyum simpul. Sepuluh menit kemudian Miss Sira menyelesaikan mata kuliahnya dan membubarkan kelas. Anak-anak mulai memburu buruannya masing-masing. Dee melangkah pelan menuju lift.
“Dee!!” seseorang meneriakkan namanya, Dee berhenti sebentar dan melirik ke belakang. Ia menemukan Audry berjalan ke arahnya.
“Apa?” tanya Dee cuek.
“Kamu mau kemana?” Audry ikut menunggu pintu lift terbuka bersama Dee.
“Mau ke taman. Emang kenapa?” tanyanya lagi.
“Nggak papa, bareng yuk. Aku mau ke rektorat. Ada yang mesti diurus.” Perkataan Audry berbarengan dengan pintu lift yang terbuka, mereka lalu melangkah masuk dan menuju ke lantai dasar.
Audry berjalan ke arah gedung rektorat sendirian. Dee berjalan menuju sudut taman yang biasa ia gunakan untuk menyendiri. Dee berjalan pelan melewati jalan berbatu yang diiringi oleh tanaman-tanaman yang berwarna-warni. Ia melewati beberapa mahasiswa yang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Beberapa detik kemudian, ia sampai di tempat yang paling ia sukai. Taman mawar putih yang terletak di sudut taman rektorat. Memang tak banyak mawar putih yang ditanam disana, tapi justru keberadaan mereka yang sedikit itulah yang menambah keekamukan taman ini. Dee duduk di hamparan rumput sambil memperhatikan mawar putih yang kini sedang bermekaran. Tempat ini sedikit tertutup dari keramaian di taman rektorat, alasan lain mengapa Dee menyukai tempat ini. Gadis itu lalu mengeluarkan The Alchemist yang belum selesai ia baca. Beberapa menit kemudian ia mulai larut dalam alur cerita buku tersebut.
“Kamu kan belum sarapan. Kenapa ga ke kantin dulu?” Dee mengalihkan konsentrasinya.
“Aku lagi males makan.” Dee tersenyum melirik Radit lalu meneruskan acara bacanya.
Terdengar Lagu Everytime dari handphone Dee, Gadis itu lalu mengacak tasnya dan menemukan apa yang ia cari. Sebuah SMS masuk,
From : Fedi
Dee, dmn?
Ma sapa?
Dee mulai mengetik tulisan di hapenya.
To : Fedi
Taman. Sendiri.
“Dari siapa?” Radit kembali memecah konsentrasinya.
“Fedi.” Dee menjawab pendek.
Beberapa waktu ini, Radit memang selalu menemani Dee saat ia ingin menyendiri di sudut taman ini. Radit bisa datang dari mana saja, ia telah hapal kapan waktunya Dee akan menghabiskan waktu berdiam diri di sini, sambil menunggu kuliah selanjutnya.
“Kamu kok nemenin aku terus disini, Dit?” Dee menatap keindahan bunga di depannya.
“Aku kan sayang sama kamu” Radit tersenyum.
“Kenapa Cuma disini aja kamu nemenin aku?” Dee tak mengalihkan pandangannya dari bunga-bunga yang bergoyang tertiup angin.
Radit hanya tersenyum menjawab pertanyaan itu. Dee meliriknya. Heran melihat Radit hanya tersenyum tanpa mengeluarkan kata-kata.
“Selalu aja kaya gitu… Kamu nggak pernah jawab pertanyaan aku. Kenapa? Padahal aku pengen kamu terus nemenin aku. Aku kangen saat-saat kita jalan bareng, nonton, kebut-kebutan, pokoknya ngabisin waktu berdua.” Dee kembali menatap mawar putih di depannya.
“Dee, aku sayang sama kamu lebih dari yang kamu tau. Inget aja, di setiap waktu kamu sendirian aku pasti ada, di hati kamu.” Radit melihat sebutir air bening mengalir dari mata kekasihnya. “Aku nggak seneng kalau kamu nangis, Dee.”
“Aku udah sering bilang kan, jangan pernah ngelarang aku nangis!” Dee mengusap air matanya. Ia lalu berdiri dan berjalan menuju gedung Student Center. Meninggalkan Radit yang tak terlihat akan mengejarnya.
Dee duduk di bangku kecil di depan ruangan BEM Sastra Inggris. Ia memperhatikan mahasiswa yang berseliweran di depannya. Seseorang lalu duduk di sampingnya.
“Kok nggak masuk? Kenapa malah duduk disini?” Fedi, kakak kelasnya, mengacak rambutnya sebentar.
“Di dalem sumpek, ah!” Dee merapikan rambutnya yang tadi diacak Fedi “Males banget nih nggak ada kerjaan” Dee kembali memperhatikan orang-orang yang sibuk di depannya sambil sesekali melempar senyum pada orang-orang yang ia kenal.
“Dee,,,” Fedi meraih tangan Dee, “aku masih nunggu.” Mereka berdua tahu maksud perkataan Fedi.
“Aku masih…” Dee tak berani melanjutkan perkataannya.
“Aku ngerti kok, Dee. Kamu masih butuh banyak waktu buat ngambil keputusan. Aku Cuma pengen negasin ke kamu, kalau apa yang aku bilang selama ini itu jujur dari hati aku. Aku akan selalu ada buat kamu, Dee.” Fedi menatap gadis yang telah mencuri hatinya sejak mereka pertama bertemu satu tahun lalu. Gadis itu telah berhasil mengisi hatinya yang telah lama kosong. Kini ia menunggu gadis itu menjawab perasaannya, suatu saat nanti. Ia tak akan kecewa jika saat itu Dee berkata tidak.
Dengan gugup Dee melepaskan tangannya dari genggaman Fedi, ia lalu tersenyum. “Aku ada kuliah sekarang.” Dee lalu beranjak meninggalkan Fedi dan berjalan menuju gedung fakultas.
“Aku… ngerasa udah ngekhianatin kamu, Dit.” Dee membuka percakapan. Hari ini ia kembali duduk di sudut taman ditemani Radit.
“Maksudnya?” Radit masih saja tersenyum.
“Kemaren Fedi bilang dia masih nunggu aku.” Dee mendekap lutunya sendiri.
“Kamu sayang sama Fedi?” Radit kembali bertanya.
“Aku sayang sama kamu, Dit.” Dee tak berani menatap Radit.
“Aku nanya, kamu sayang sama Fedi?” Radit menegaskan kembali pertanyaannya.
“Aku… entah sejak kapan aku ngerasa nggak pengen jauh dari Fedi. Dia udah jadi bagian dari kehidupan aku. Aku nggak tau kenapa bisa jadi kaya gini. Kenapa aku tega ngebagi perasaan aku dan nyakitin kamu.” Dee menutup matanya dan menarik napas pelan. Baru kali ini ia jujur tentang perasaannya pada Radit.
“Kok aku nggak ngerasa itu sebuah pengkhianatan, ya?” Radit melihat Dee tersentak dan menatapnya heran. “Aku bakalan seneng banget kalau kamu bahagia sama Fedi.” Radit lagi-lagi tersenyum. “Aku nggak akan bisa terus ada di samping kamu, Dee.”
“Maksudnya? Kamu mau ninggalin aku?” Dee menatap Radit.
“Kamu bisa bahagia tanpa aku. Udah terlalu lama kamu menutup perasaan kamu ke Fedi. Asal kamu tau, aku nunggu saat-saat dimana kamu bisa jujur ke Fedi. Dan ternyata saat itu telah datang. Aku bisa tenang ngelepas kamu. Jangan pernah jadikan perasaan sayang kamu ke aku sebagai beban yang menghalangi kebahagian yang seharusnya kamu nikmati.”
Dee menutup matanya dan merasakan air mata mengalir tak berhenti dari matanya. Saat ia membuka matanya, Radit tak lagi ada disampingnya. Ia kini sendirian di sudut taman yang ia sukai. Beberapa jam kemudian, Dee menghabiskan waktu dalam diam di tempat itu. Namun Radit tak lagi muncul dan menemaninya. Ia kembali menangis.
“Raditya Anggapraja.” gumamnya pelan.
“Kamu beneran niat ya bolos kuliah.” Fedi memacu mobilnya menuju tempat yang diinginkan Dee.
“Iya.” Dee menjawab pendek sambil memperhatikan jalan.
Fedi memasuki lahan parkir yang memang disediakan untuk pengunjung. Ia memarkir mobilnya di belakang sebuah Volvo hitam. Dee lalu keluar dan menuju ke satu tempat di sudut taman pekuburan ini. Fedi mengikutinya dari belakang. Dee berhenti di depan sebuah gundukan tanah. Ia lalu duduk di samping gundukan tanah tersebut. Fedi juga ikut duduk di sampingnya.
“Kamu tau kan apa yang mau aku bilang?” Dee tersenyum. “Kamu belum pernah ketemu Fedi kan? Kenalin, ini Fedi.” Dee menatap Fedi lembut. Mereka berdiam lama di tempat itu sampai dee beranjak dan menggenggam tangan Fedi lembut. “Aku sayang sama kamu, Dit.”
Fedi menggenggam tangan Dee sambil berjalan menuju mobilnya. Dee melirik gundukan tanah yang ia tinggalkan untuk kesekian kalinya, membaca dengan jelas apa yang tertulis di nisan putih yang selalu ia bersihkan.
Raditya Anggapraja
Bin
Anggapraja
28-02-1986
05-03-2006
Bersamaku…
Siapa bilang aku butuh ditemani, aku hanya ingin dicintai.
Cukup cintai aku dengan sederhana. Maka aku akan sangat berbahagia.
Hanya pagi yang mengukir janji bersama malam. Bukan aku…
Hanya serangga yang bersetuju dengan bunga. Bukan aku…
Aku hanya meminta, tidak memaksa.
Aku hanya mengikat hati, bukan untuk disakiti.
Aku cuma manusia dengan segudang alfa, tapi aku punya cinta.
Cukupkah untuk membuatmu terpatri disini, disisi?
Atau hanya mengantarmu pada malam-malam kelam,
dan merebutmu kembali pada siang yang garang?
Tapi aku masih disini, bersama hati yang kita bagi.
Berjalan dan bertahan.
Memang. . .
Kita memang mengikat hati dalam sebuah janji,
tapi itu tidak membuat kita memiliki hak untuk saling menyakiti.
Kenapa. . .
Don’t believe in me that much. . .
Karena sekalinya aku mengkhianati kita, kamu akan terluka selamanya.
First writing. . .
Tiap kali bikin blog, pasti post pertama itu judulnya ‘first writing’…kenapa ya? well, itu cuma aku aja siy…kalu orang lain pasti lebih kreatif. . .
Oke deh, perkenalan dulu…aku itu…
Iya, itu aku. . .apalagi yang bisa dijelasin ya… hehe yah, silakan interpretasikan sendiri soal bagaimana aku terlihat atau seperti apa sifat”ku
Aku sedang menempuh jalur pendidikan formal, beruntungnya aku bisa menikmati bangku perkuliahan, itupun dengan tetes keringat orang” yang mencintaiku. bisakah aku mengabaikannya…? Tentu tidak akan pernah. Karena itu, aku tak pernah menyesal menghabiskan waktu di kampus untuk kuliah dan belajar juga bekerja dan berorganisasi. . .
Bukan mahasiswa namanya kalau tidak memperlebar jangkauan sosialnya. Karena itu, aku senang punya banyak teman, tentunya teman yang jelas dan tidak berirama negatif. . .
Menghabiskan sebagian besar mata kuliah dengan menggunakan bahasa internasional tidak membuatku menjadi ahli bahasa tersebut. . .well. . . belum, mungkin. . . aku bercita-cita menjadi seorang ahli linguistik…linguist. maka dari itu, tekadku bulat untuk mengambil jurusan Linguistics di semester depan. . . satu dari dua pilihan mayor yang ditawarkan English Department di kampusku.
Belajar menjadi satu hal yang tak lagi bisa kuhindari. . . tidak seperti saat SMA dulu, aku masih bisa leha-leha tanpa memikirkan pelajaran hari esok. Kini, tak belajar satu hari bisa membuatku ketinggalan satu tahun. tidak membaca satu buku dalam seminggu membuatku tertinggal jauh. . . karena itu, buku adalah pacar keduaku, walau untuk membeli satu buku aku harus menabung dari uang makanku dulu. . .
Blog ini untukku, untuk menuliskan tiap cinta yang kutemukan di tiap harinya. Untuk menyampaikan jutaan kata yang mungkin bermakna bagi sebagian dari kita. Untuk mencurahkan sedikit rasa di tiap malamnya. . .
Blog ini untuk mereka, yang memberikan sejuta kenang pada hidup kecilku, yang membawa beribu lucu pada siang dan petangnya, yang memberiku sedikit cinta yang penuh makna, yang menawarkan kata persahabatan dalam langkah panjangku.
Blog ini untuk dia, yang menjadi bintang dalam tiap kelamku. dia yang menawarkan sederhananya menemani hariku mengusir sepi, yang memberikan segunung kata cinta dan bahagia. . .
haha, ini cuma pembuka, hanya sebuah gerbang.
Setiap kenangan yang aku temukan. Membawaku pada kebahagiaan. Meski hanya tersisa keperihan, Aku akan tetap bahagia.
cheer up, guys. . .