Dee

December 19, 2008 at 4:21 am (yang tak akan ada habisnya)

Dee mengunci pintu kosan sambil membenarkan letak kacamatanya. Ia lalu beranjak keluar, tak pamitan pada siapapun karena dia yakin anak-anak Pondok Bambu belum ada yang bangun. Dee lalu berjalan pelan menuju kampusnya. Lima menit kemudian, ia sampai di depan gerbang atas kampus dan langsung menuju ke gedung fakultas bahasa. Diliriknya taman rektorat yang ia lalui sebelum memasuki gedung fakultas. Indah banget, pikirnya. Sudah puluhan kali Dee melewati taman itu namun tak sekalipun ia bosan menatap keindahan tata letak taman kebanggaan kampusnya itu. Belum banyak mahasiswa yang berseliweran di kampus pagi itu. Dee lalu memasuki fakultasnya dan langsung menuju lift yang akan mengantarnya ke lantai lima, ruang 227.

Pukul 08.30, Dee mengalihkan pandangannya dari jam dinding di kelas, menatap Miss Sira yang masih membahas tentang puisi. Sepuluh menit lagi kuliah ini selesai. Anak-anak kelasnya mulai gelisah dan bersiap-siap menyerbu kantin atau perpustakaan untuk nge-net gratis. Dee melirik jadwal kuliah di bindernya,10.40 Mata Kuliah phonetics and phonology Ruang 150, Lnt. 3 Gedung fakultas Bahasa.

Dua jam bisa dia gunakan untuk membaca di taman rektorat. Dee lalu tersenyum simpul. Sepuluh menit kemudian Miss Sira menyelesaikan mata kuliahnya dan membubarkan kelas. Anak-anak mulai memburu buruannya masing-masing. Dee melangkah pelan menuju lift.

“Dee!!” seseorang meneriakkan namanya, Dee berhenti sebentar dan melirik ke belakang. Ia menemukan Audry berjalan ke arahnya.

“Apa?” tanya Dee cuek.

“Kamu mau kemana?” Audry ikut menunggu pintu lift terbuka bersama Dee.

“Mau ke taman. Emang kenapa?” tanyanya lagi.

“Nggak papa, bareng yuk. Aku mau ke rektorat. Ada yang mesti diurus.” Perkataan Audry berbarengan dengan pintu lift yang terbuka, mereka lalu melangkah masuk dan menuju ke lantai dasar.

Audry berjalan ke arah gedung rektorat sendirian. Dee berjalan menuju sudut taman yang biasa ia gunakan untuk menyendiri. Dee berjalan pelan melewati jalan berbatu yang diiringi oleh tanaman-tanaman yang berwarna-warni. Ia melewati beberapa mahasiswa yang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Beberapa detik kemudian, ia sampai di tempat yang paling ia sukai. Taman mawar putih yang terletak di sudut taman rektorat. Memang tak banyak mawar putih yang ditanam disana, tapi justru keberadaan mereka yang sedikit itulah yang menambah keekamukan taman ini. Dee duduk di hamparan rumput sambil memperhatikan mawar putih yang kini sedang bermekaran. Tempat ini sedikit tertutup dari keramaian di taman rektorat, alasan lain mengapa Dee menyukai tempat ini. Gadis itu lalu mengeluarkan The Alchemist yang belum selesai ia baca. Beberapa menit kemudian ia mulai larut dalam alur cerita buku tersebut.

“Kamu kan belum sarapan. Kenapa ga ke kantin dulu?” Dee mengalihkan konsentrasinya.

“Aku lagi males makan.” Dee tersenyum melirik Radit lalu meneruskan acara bacanya.

Terdengar Lagu Everytime dari handphone Dee, Gadis itu lalu mengacak tasnya dan menemukan apa yang ia cari. Sebuah SMS masuk,

From : Fedi

Dee, dmn?

Ma sapa?

Dee mulai mengetik tulisan di hapenya.

To : Fedi

Taman. Sendiri.

“Dari siapa?” Radit kembali memecah konsentrasinya.

“Fedi.” Dee menjawab pendek.

Beberapa waktu ini, Radit memang selalu menemani Dee saat ia ingin menyendiri di sudut taman ini. Radit bisa datang dari mana saja, ia telah hapal kapan waktunya Dee akan menghabiskan waktu berdiam diri di sini, sambil menunggu kuliah selanjutnya.

“Kamu kok nemenin aku terus disini, Dit?” Dee menatap keindahan bunga di depannya.

“Aku kan sayang sama kamu” Radit tersenyum.

“Kenapa Cuma disini aja kamu nemenin aku?” Dee tak mengalihkan pandangannya dari bunga-bunga yang bergoyang tertiup angin.

Radit hanya tersenyum menjawab pertanyaan itu. Dee meliriknya. Heran melihat Radit hanya tersenyum tanpa mengeluarkan kata-kata.

“Selalu aja kaya gitu… Kamu nggak pernah jawab pertanyaan aku. Kenapa? Padahal aku pengen kamu terus nemenin aku. Aku kangen saat-saat kita jalan bareng, nonton, kebut-kebutan, pokoknya ngabisin waktu berdua.” Dee kembali menatap mawar putih di depannya.

“Dee, aku sayang sama kamu lebih dari yang kamu tau. Inget aja, di setiap waktu kamu sendirian aku pasti ada, di hati kamu.” Radit melihat sebutir air bening mengalir dari mata kekasihnya. “Aku nggak seneng kalau kamu nangis, Dee.”

“Aku udah sering bilang kan, jangan pernah ngelarang aku nangis!” Dee mengusap air matanya. Ia lalu berdiri dan berjalan menuju gedung Student Center. Meninggalkan Radit yang tak terlihat akan mengejarnya.

Dee duduk di bangku kecil di depan ruangan BEM Sastra Inggris. Ia memperhatikan mahasiswa yang berseliweran di depannya. Seseorang lalu duduk di sampingnya.

“Kok nggak masuk? Kenapa malah duduk disini?” Fedi, kakak kelasnya, mengacak rambutnya sebentar.

“Di dalem sumpek, ah!” Dee merapikan rambutnya yang tadi diacak Fedi “Males banget nih nggak ada kerjaan” Dee kembali memperhatikan orang-orang yang sibuk di depannya sambil sesekali melempar senyum pada orang-orang yang ia kenal.

“Dee,,,” Fedi meraih tangan Dee, “aku masih nunggu.” Mereka berdua tahu maksud perkataan Fedi.

“Aku masih…” Dee tak berani melanjutkan perkataannya.

“Aku ngerti kok, Dee. Kamu masih butuh banyak waktu buat ngambil keputusan. Aku Cuma pengen negasin ke kamu, kalau apa yang aku bilang selama ini itu jujur dari hati aku. Aku akan selalu ada buat kamu, Dee.” Fedi menatap gadis yang telah mencuri hatinya sejak mereka pertama bertemu satu tahun lalu. Gadis itu telah berhasil mengisi hatinya yang telah lama kosong. Kini ia menunggu gadis itu menjawab perasaannya, suatu saat nanti. Ia tak akan kecewa jika saat itu Dee berkata tidak.

Dengan gugup Dee melepaskan tangannya dari genggaman Fedi, ia lalu tersenyum. “Aku ada kuliah sekarang.” Dee lalu beranjak meninggalkan Fedi dan berjalan menuju gedung fakultas.

“Aku… ngerasa udah ngekhianatin kamu, Dit.” Dee membuka percakapan. Hari ini ia kembali duduk di sudut taman ditemani Radit.

“Maksudnya?” Radit masih saja tersenyum.

“Kemaren Fedi bilang dia masih nunggu aku.” Dee mendekap lutunya sendiri.

“Kamu sayang sama Fedi?” Radit kembali bertanya.

“Aku sayang sama kamu, Dit.” Dee tak berani menatap Radit.

“Aku nanya, kamu sayang sama Fedi?” Radit menegaskan kembali pertanyaannya.

“Aku… entah sejak kapan aku ngerasa nggak pengen jauh dari Fedi. Dia udah jadi bagian dari kehidupan aku. Aku nggak tau kenapa bisa jadi kaya gini. Kenapa aku tega ngebagi perasaan aku dan nyakitin kamu.” Dee menutup matanya dan menarik napas pelan. Baru kali ini ia jujur tentang perasaannya pada Radit.

“Kok aku nggak ngerasa itu sebuah pengkhianatan, ya?” Radit melihat Dee tersentak dan menatapnya heran. “Aku bakalan seneng banget kalau kamu bahagia sama Fedi.” Radit lagi-lagi tersenyum. “Aku nggak akan bisa terus ada di samping kamu, Dee.”

“Maksudnya? Kamu mau ninggalin aku?” Dee menatap Radit.

“Kamu bisa bahagia tanpa aku. Udah terlalu lama kamu menutup perasaan kamu ke Fedi. Asal kamu tau, aku nunggu saat-saat dimana kamu bisa jujur ke Fedi. Dan ternyata saat itu telah datang. Aku bisa tenang ngelepas kamu. Jangan pernah jadikan perasaan sayang kamu ke aku sebagai beban yang menghalangi kebahagian yang seharusnya kamu nikmati.”

Dee menutup matanya dan merasakan air mata mengalir tak berhenti dari matanya. Saat ia membuka matanya, Radit tak lagi ada disampingnya. Ia kini sendirian di sudut taman yang ia sukai. Beberapa jam kemudian, Dee menghabiskan waktu dalam diam di tempat itu. Namun Radit tak lagi muncul dan menemaninya. Ia kembali menangis.

“Raditya Anggapraja.” gumamnya pelan.

“Kamu beneran niat ya bolos kuliah.” Fedi memacu mobilnya menuju tempat yang diinginkan Dee.

“Iya.” Dee menjawab pendek sambil memperhatikan jalan.

Fedi memasuki lahan parkir yang memang disediakan untuk pengunjung. Ia memarkir mobilnya di belakang sebuah Volvo hitam. Dee lalu keluar dan menuju ke satu tempat di sudut taman pekuburan ini. Fedi mengikutinya dari belakang. Dee berhenti di depan sebuah gundukan tanah. Ia lalu duduk di samping gundukan tanah tersebut. Fedi juga ikut duduk di sampingnya.

“Kamu tau kan apa yang mau aku bilang?” Dee tersenyum. “Kamu belum pernah ketemu Fedi kan? Kenalin, ini Fedi.” Dee menatap Fedi lembut. Mereka berdiam lama di tempat itu sampai dee beranjak dan menggenggam tangan Fedi lembut. “Aku sayang sama kamu, Dit.”

Fedi menggenggam tangan Dee sambil berjalan menuju mobilnya. Dee melirik gundukan tanah yang ia tinggalkan untuk kesekian kalinya, membaca dengan jelas apa yang tertulis di nisan putih yang selalu ia bersihkan.

Raditya Anggapraja

Bin

Anggapraja

28-02-1986

05-03-2006

Permalink 1 Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.